JAWA BARAT BERPIKIR CARA RAKYAT
Pada
hari Kamis, 15 Desember 2016, saya bersama teman-teman dari jurusan Komunikasi
Penyiaran Islam kelas D angkatan 2015 melakukan kunjungan ke salah satu media
cetak terlama di Jawa Barat, yaitu Pikiran Rakyat. Sesampainya di lokasi, kami
segera disambut oleh karyawan yang bertugas serta diarahkan untuk memasuki aula
Pikiran Rakyat dibimbing oleh dosen Pengantar Ilmu Jurnalistik yaitu Bapak Dudi
Rustandi, S. Sos.I., M.Ag. beliau merupakan seorang yang aktif di bidang
tulis-menulis serta jurnalistik, dengan perangai yang baik dan kepribadian yang
baik pula, beliau mampu membimbing kami dan berusaha menjadikan kami mahasiswa
yang aktif dalam dunia jurnalistik.
Suasana
di dalam aula sangat tertata rapi dan bersih, kegiatan kami dilmulai dengan
tayangan video tentang bagaimana Pikiran Rakyat dibangun sampai menjadi media
cetak yang besar di Jawa Barat saat ini, lalu mendengarkan pemaparan langsung
dari Ibu Taty Siti Aisyah yang merupakan HUMAS Pikiran Rakyat seputar media
cetak dan online, para pendiri Pikiran Rakyat, tantangan-tantangan yang
dihadapi, kemudian kami melakukan diskusi, tanya-jawab serta sharing, keramah-tamahan serta bahasa
yang mudah dipahami dari Ibu Taty menjadi semangat tersendiri untuk aktif
bertanya dan menambah rasa ingin tahu yang besar mengenai Pikiran Rakyat.
Dimulai
dari sejarah berdirinya Pikiran Rakyat,
Filosofi nama Pikiran Rakyat serta bagaimana cara agar bisa masuk dan
bekerja di dalamnya. Banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh para pendiri
Pikiran Rakyat ini, dimulai dengan dana yang sedikit, tempat yang kecil kerta
fasilitas seadanya. Ibu Taty juga bercerita pengalamannya, ketika beliau sampai
di Pikiran Rakyat untuk bekerja, didapati kondisi kantor yang sudah hangus
terbakar, suasana bingung dan takut menyelimuti Pikiran Rakyat pada saat itu,
namun dengan kata ‘pantang menyerah’, Pikiran Rakyat tetap menyajikan berita
pada hari itu.
Ibu
taty juga menjelaskan, peminat Koran Pikiran Rakyat juga cukup banyak karena
dari segi bahasanya tidak terlalu menantang kepada problematika yang ada tetapi
dengan bahasa yang luwes dan tidak
terlalu menekan. Karena pada dasarnya, Pikiran Rakyat merupakan media yang
bersifat independen, dengan penggunaan bahasa yang lembut dan tidak terlalu menyentil bagaimana cara Pikiran Rakyat
menyampaikan aspirasinya.
Dan
agar tidak terkalahkan oleh zaman, berita yang ter-up-to-date juga diposting di
koran online Pikiran Rakyat, Ibu Taty menjelaskan bahwa tidak dapat dipungkiri
lagi, pada saat ini, kebanyakan orang lebih suka berselancar di media sosial
daripada membaca berita. Jadi Pikiran Rakyat mensiasati agar berita yang
disajikannya tetap eksis dan
dinikmati para peselancar media sosial.
Banyak
sekali ilmu yang kami dapat terutama hal yang berkaitan dengan jurnalistik,
serta bagaimana cara mengatasi tantangan dengan pantang menyerah dan terus
berusaha. Terimakasih Pikiran Rakyat, atas 50 tahun yang sangat berharga
menyajikan berita hangat. Semoga tetap menjadi icon media di Jawa Barat,
dan terus maju walau seberat apapun tantangan yang dihadapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar