Selasa, 27 Desember 2016

Pertarungan Independensi dan Idealisme (Feature PIJ)



Pertarungan Independensi dan Idealisme Media di Masa Sekarang

Pikiran Rakyat, sebagai media percetakan yang saat ini sudah menginjak usia setengah abad terus berkiprah di dunia media cetak meskipun arus globalisasi zaman terus berkembang hingga muncul media-media yang mampu diakses secara digital di smartphone yang dimiliki oleh banyak kalangan saat ini. Pikiran Rakyat dari awal kemunculnnya pun sudah dihadapkan oleh tantangan yang harus dihadapinya seperti pada tahun 1966, karena pada saat itu media cetak ini terlambat memenuhi ketentuan yang mengahruskan untuk berafiliasi dengan salah satu kekuatan politik atau memilih bergabung dengan Koran yang ditentukan oleh Departemen Keuangan pada saat itu. Sehingga pada saat itu para wartawan Pikiran Rakyat yang diwakili oleh Sakti Alamsyah dan Atang Ruswita menerbitkan Koran Angkatan Bersenjata (ABRI), yang terbitan pertamanya pada tanggal 24 Maret 1966 yang bertepatan dengan 20 tahun peristiwa Bandung Lautan Api.
Tidak cukup sampai disitu, setahun berselang Koran ini kembali mendapatkan ujian dengan dicabutnya peraturan tentang keharusan berafiliasi oleh Menteri Penerangan. Pada saat itu Pangdam Siliwangi langsung melepas sepenuhnya ketergantungan Koran ini terhadap Kodam. Seiring dengan keputusan yang ditetapkan oleh Menteri Penerangan, pada saat itu juga terhitung pada 24 Maret 1967 Harian Angkatan Bersenjata (ABRI) berubah nama menjadi Harian Umum Pikiran Rakyat yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Koran “PR” hingga saat ini.
Berkat kegigihan dan juga keuletan yang didasari jiwa idealisme para perintis pada saat itu, Pikiran Rakyat dengan pasti terus mendapatkan perhatian khusus dari para pembacanya. Pada tanggal 9 April 1973, Pikiran Rakyat berubah secara badan hukum dari Yayasan menjadi Perseroa Terbatas (PT) dengan nama PT. Pikiran Rakyat Bandung. Sehingga PR juga terus-menerus menata diri menjadi sebuah media cetak yang terus maju dan berkembang serta etika jurnalistiknya dipadukan dengan sistem manajemen layaknya perusahaan yang modern.

Seiring berjalannya waktu ketika zaman terus menggerus pada era perubahan yang lebih canggih dan idealisme dipertaruhkan dengan berbagai kepentingan politik penguasa, Pikiran Rakyat terus kukuh dengan indepedensi sebagai media yang tidak memiliki “kepentingan” selain terus memberikan sajian informasi yang real di masyarakat Jawa Barat. Tentunya hal ini juga yang sekarang ini menjadi nilai keutuhan informasi bagi masyarakat, sehingga menjadikan Pikiran Rakyat menjadi tolak ukur media dalam menyajikan berita yang jujur.
Dalam perkembangannya, Pikiran Rakyat terus membangun masyarakat di Jawa Barat yang berprestasi sehingga hal ini juga yang mimicu Pikiran Rakyat terus senantiasa hadir di masyarakat Jawa Barat dengan memberikan apresiasi lebih kepada para siswa SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi di Jawa Barat. Target pembangunan melalui pendidikan ini juga mampu membantu peran serta pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang cerdas, jujur, dan berpendidikan tinggi.
Pikiran Rakyat yang menjadi sumber berita bagi masyarakat Jawa Barat terus berkomitmen menjadi media yang senantiasa dapat dipercaya dan berimbang, hal ini sejalan dengan visi Pikiran Rakyat yang menjadi media terpercaya, berpengaruh, dan terbesar di Jawa Barat dalam membangun karakter, pemberdayaan, dan kemakmuran masyarakat Indonesia. Visi yang dicanangkan PR ini juga yang mampu mendorong komitmen PR menjadi media yang independen yang didasari jiwa idealisme sebagai media “Rakyat” Jawa Barat dalam upaya membangun masyarakat.
Media yang sekarang menjadi benteng awal pembangunan masyarakat justru dimanfaatkan oleh beberapa pihak yang secara sengaja menjadikan media sebagai alat untuk membangun citra, opini, dan juga propaganda di masyarakat sehingga problematika yang dihadapi saat ini adalah bagaimana membangun tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media saat ini, tidak sedikit untuk saat ini di banyak media terdapat logo-logo partai para pemilik media tersebut. Sehingga hal ini juga yang justru membuat berkurangnya ketertarikan masyarakat dalam membaca berita. Dikarenakan hal itu yang membuat perpecahan di masyarakat luas. Sebagaimana mestinya, media yang menjadi tongkat awal masyarakat dalam menyerap informasi dari pusat yang semestinya menjungjung tinggi asas kejujuran sebagi realita awal dalam kejadian yang sebenarnya, pada saat ini justru terbalik dimana media menjadi tolak ukur masyarakat dalam membangun informasi. Sehingga dalam realita banyak masyarakat yang justru tidak ingin tahu menahu terhadap pemberitaan yang disajikan media-media yang “dicampuri” berbagai kepentingan para pemiliknya.
Perlahan tapi pasti Pikiran Rakyat yang sejak awal merawat nilai-nilai etika jurnalistik yang memang semestinya tidak memiliki kepentingan, menarik kembali minat masyarakat dalam membaca berita di media yang khususnya media cetak. Hal ini pula yang membuat Pikiran Rakyat terus bereksitensi di masyarakat dan kembali mempercayai nilai yang tertanam oleh para pendahulu media ini, sehingga saat ini Pikiran Rakyat mampu menjadi sedikit diantara banyak media yang dijadikan sumber informasi bagi masyarakat di negeri ini yang khususnya daerah Jawa Barat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar