Selasa, 27 Desember 2016

Pikiran Rakyat Hidup dan Menghidupkan (Opini PIJ)



Pikiran Rakyat Hidup dan Menghidupkan
HIDUP, bukan berbicara soal bagaimana makan dan tidur, tetapi bagaimana cara berjuang dan pantang menyerah untuk tetap hidup. Menghidupkan semangat dan perjuangan pun merupakan bagian penting dari hidup.
Pikiran Rakyat merupakan sebuah icon media di Provinsi Jawa Barat yang menghidupkan semangat dan perjuangan, 50 tahun terombang-ambing oleh tantangan zaman, tidah menyurutkan optimisme para pendirinya.
Seperti halnya dalam kunjungan 15 Desember lalu, yang banyak membahas tentang bagaimana terciptanya Pikiran Rakyat yang sekarang. Bukan tanpa rintangan, tetapi bagaimana cara menghadapi serta mengatasi problematika yang ada pada saat itu, mulai dari minimnya dana, peralatan yang seadanya, serta fasilitas yang serba terbatas. Semua itu merupakan rintangan yang sulit pada saat itu, dengan berani mengambil keputusan dan terus berjuang menyajikan berita aktual dan faktual dengan bahasa yang lembut, membawa Pikiran Rakyat menjadi icon media di Provinsi Jawa Barat.
Sepenggal cerita
Pada suatu hari bertemu pagi dengan aroma hangus di Pikiran Rakyat, melihat kantor yang sudah rata dengan tanah, rasa bingung, sedih menerpa semuanya, namun dengan semangat dan pantang menyerah, Pikiran Rakyat tetap menyajikan berita pada hari itu. Pikiran Rakyat telah dari dulu mengamalkan apa itu ‘hidup dan menghidupkan’.
Terimakasih
Keramah-tamahan serta sambutan hangat yang kami dapat akan selalu kami ingat, terimakasih atas 50 tahun perjuanganmu, semoga tetap menjadi media yang istiqomah dalam semangat ‘hidup dan menghidupkan’.

Pertarungan Independensi dan Idealisme (Feature PIJ)



Pertarungan Independensi dan Idealisme Media di Masa Sekarang

Pikiran Rakyat, sebagai media percetakan yang saat ini sudah menginjak usia setengah abad terus berkiprah di dunia media cetak meskipun arus globalisasi zaman terus berkembang hingga muncul media-media yang mampu diakses secara digital di smartphone yang dimiliki oleh banyak kalangan saat ini. Pikiran Rakyat dari awal kemunculnnya pun sudah dihadapkan oleh tantangan yang harus dihadapinya seperti pada tahun 1966, karena pada saat itu media cetak ini terlambat memenuhi ketentuan yang mengahruskan untuk berafiliasi dengan salah satu kekuatan politik atau memilih bergabung dengan Koran yang ditentukan oleh Departemen Keuangan pada saat itu. Sehingga pada saat itu para wartawan Pikiran Rakyat yang diwakili oleh Sakti Alamsyah dan Atang Ruswita menerbitkan Koran Angkatan Bersenjata (ABRI), yang terbitan pertamanya pada tanggal 24 Maret 1966 yang bertepatan dengan 20 tahun peristiwa Bandung Lautan Api.
Tidak cukup sampai disitu, setahun berselang Koran ini kembali mendapatkan ujian dengan dicabutnya peraturan tentang keharusan berafiliasi oleh Menteri Penerangan. Pada saat itu Pangdam Siliwangi langsung melepas sepenuhnya ketergantungan Koran ini terhadap Kodam. Seiring dengan keputusan yang ditetapkan oleh Menteri Penerangan, pada saat itu juga terhitung pada 24 Maret 1967 Harian Angkatan Bersenjata (ABRI) berubah nama menjadi Harian Umum Pikiran Rakyat yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Koran “PR” hingga saat ini.
Berkat kegigihan dan juga keuletan yang didasari jiwa idealisme para perintis pada saat itu, Pikiran Rakyat dengan pasti terus mendapatkan perhatian khusus dari para pembacanya. Pada tanggal 9 April 1973, Pikiran Rakyat berubah secara badan hukum dari Yayasan menjadi Perseroa Terbatas (PT) dengan nama PT. Pikiran Rakyat Bandung. Sehingga PR juga terus-menerus menata diri menjadi sebuah media cetak yang terus maju dan berkembang serta etika jurnalistiknya dipadukan dengan sistem manajemen layaknya perusahaan yang modern.

Seiring berjalannya waktu ketika zaman terus menggerus pada era perubahan yang lebih canggih dan idealisme dipertaruhkan dengan berbagai kepentingan politik penguasa, Pikiran Rakyat terus kukuh dengan indepedensi sebagai media yang tidak memiliki “kepentingan” selain terus memberikan sajian informasi yang real di masyarakat Jawa Barat. Tentunya hal ini juga yang sekarang ini menjadi nilai keutuhan informasi bagi masyarakat, sehingga menjadikan Pikiran Rakyat menjadi tolak ukur media dalam menyajikan berita yang jujur.
Dalam perkembangannya, Pikiran Rakyat terus membangun masyarakat di Jawa Barat yang berprestasi sehingga hal ini juga yang mimicu Pikiran Rakyat terus senantiasa hadir di masyarakat Jawa Barat dengan memberikan apresiasi lebih kepada para siswa SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi di Jawa Barat. Target pembangunan melalui pendidikan ini juga mampu membantu peran serta pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang cerdas, jujur, dan berpendidikan tinggi.
Pikiran Rakyat yang menjadi sumber berita bagi masyarakat Jawa Barat terus berkomitmen menjadi media yang senantiasa dapat dipercaya dan berimbang, hal ini sejalan dengan visi Pikiran Rakyat yang menjadi media terpercaya, berpengaruh, dan terbesar di Jawa Barat dalam membangun karakter, pemberdayaan, dan kemakmuran masyarakat Indonesia. Visi yang dicanangkan PR ini juga yang mampu mendorong komitmen PR menjadi media yang independen yang didasari jiwa idealisme sebagai media “Rakyat” Jawa Barat dalam upaya membangun masyarakat.
Media yang sekarang menjadi benteng awal pembangunan masyarakat justru dimanfaatkan oleh beberapa pihak yang secara sengaja menjadikan media sebagai alat untuk membangun citra, opini, dan juga propaganda di masyarakat sehingga problematika yang dihadapi saat ini adalah bagaimana membangun tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media saat ini, tidak sedikit untuk saat ini di banyak media terdapat logo-logo partai para pemilik media tersebut. Sehingga hal ini juga yang justru membuat berkurangnya ketertarikan masyarakat dalam membaca berita. Dikarenakan hal itu yang membuat perpecahan di masyarakat luas. Sebagaimana mestinya, media yang menjadi tongkat awal masyarakat dalam menyerap informasi dari pusat yang semestinya menjungjung tinggi asas kejujuran sebagi realita awal dalam kejadian yang sebenarnya, pada saat ini justru terbalik dimana media menjadi tolak ukur masyarakat dalam membangun informasi. Sehingga dalam realita banyak masyarakat yang justru tidak ingin tahu menahu terhadap pemberitaan yang disajikan media-media yang “dicampuri” berbagai kepentingan para pemiliknya.
Perlahan tapi pasti Pikiran Rakyat yang sejak awal merawat nilai-nilai etika jurnalistik yang memang semestinya tidak memiliki kepentingan, menarik kembali minat masyarakat dalam membaca berita di media yang khususnya media cetak. Hal ini pula yang membuat Pikiran Rakyat terus bereksitensi di masyarakat dan kembali mempercayai nilai yang tertanam oleh para pendahulu media ini, sehingga saat ini Pikiran Rakyat mampu menjadi sedikit diantara banyak media yang dijadikan sumber informasi bagi masyarakat di negeri ini yang khususnya daerah Jawa Barat.

Jawa Barat Berpikir Cara Rakyat (reportase PIJ)



JAWA BARAT BERPIKIR CARA RAKYAT
Pada hari Kamis, 15 Desember 2016, saya bersama teman-teman dari jurusan Komunikasi Penyiaran Islam kelas D angkatan 2015 melakukan kunjungan ke salah satu media cetak terlama di Jawa Barat, yaitu Pikiran Rakyat. Sesampainya di lokasi, kami segera disambut oleh karyawan yang bertugas serta diarahkan untuk memasuki aula Pikiran Rakyat dibimbing oleh dosen Pengantar Ilmu Jurnalistik yaitu Bapak Dudi Rustandi, S. Sos.I., M.Ag. beliau merupakan seorang yang aktif di bidang tulis-menulis serta jurnalistik, dengan perangai yang baik dan kepribadian yang baik pula, beliau mampu membimbing kami dan berusaha menjadikan kami mahasiswa yang aktif dalam dunia jurnalistik.
Suasana di dalam aula sangat tertata rapi dan bersih, kegiatan kami dilmulai dengan tayangan video tentang bagaimana Pikiran Rakyat dibangun sampai menjadi media cetak yang besar di Jawa Barat saat ini, lalu mendengarkan pemaparan langsung dari Ibu Taty Siti Aisyah yang merupakan HUMAS Pikiran Rakyat seputar media cetak dan online, para pendiri Pikiran Rakyat, tantangan-tantangan yang dihadapi, kemudian kami melakukan diskusi, tanya-jawab serta sharing, keramah-tamahan serta bahasa yang mudah dipahami dari Ibu Taty menjadi semangat tersendiri untuk aktif bertanya dan menambah rasa ingin tahu yang besar mengenai Pikiran Rakyat.
Dimulai dari sejarah berdirinya Pikiran Rakyat, Filosofi nama Pikiran Rakyat serta bagaimana cara agar bisa masuk dan bekerja di dalamnya. Banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh para pendiri Pikiran Rakyat ini, dimulai dengan dana yang sedikit, tempat yang kecil kerta fasilitas seadanya. Ibu Taty juga bercerita pengalamannya, ketika beliau sampai di Pikiran Rakyat untuk bekerja, didapati kondisi kantor yang sudah hangus terbakar, suasana bingung dan takut menyelimuti Pikiran Rakyat pada saat itu, namun dengan kata ‘pantang menyerah’, Pikiran Rakyat tetap menyajikan berita pada hari itu.
Ibu taty juga menjelaskan, peminat Koran Pikiran Rakyat juga cukup banyak karena dari segi bahasanya tidak terlalu menantang kepada problematika yang ada tetapi dengan bahasa yang luwes dan tidak terlalu menekan. Karena pada dasarnya, Pikiran Rakyat merupakan media yang bersifat independen, dengan penggunaan bahasa yang lembut dan tidak terlalu menyentil bagaimana cara Pikiran Rakyat menyampaikan aspirasinya.
            Dan agar tidak terkalahkan oleh zaman, berita yang ter-up-to-date juga diposting di koran online Pikiran Rakyat, Ibu Taty menjelaskan bahwa tidak dapat dipungkiri lagi, pada saat ini, kebanyakan orang lebih suka berselancar di media sosial daripada membaca berita. Jadi Pikiran Rakyat mensiasati agar berita yang disajikannya tetap eksis dan dinikmati para peselancar media sosial.
Banyak sekali ilmu yang kami dapat terutama hal yang berkaitan dengan jurnalistik, serta bagaimana cara mengatasi tantangan dengan pantang menyerah dan terus berusaha. Terimakasih Pikiran Rakyat, atas 50 tahun yang sangat berharga menyajikan berita hangat. Semoga tetap menjadi icon media di Jawa Barat, dan terus maju walau seberat apapun tantangan yang dihadapi.