Pertarungan Independensi dan
Idealisme Media di Masa Sekarang
Pikiran
Rakyat, sebagai media percetakan yang saat ini sudah menginjak usia setengah
abad terus berkiprah di dunia media cetak meskipun arus globalisasi zaman terus
berkembang hingga muncul media-media yang mampu diakses secara digital di
smartphone yang dimiliki oleh banyak kalangan saat ini. Pikiran Rakyat dari
awal kemunculnnya pun sudah dihadapkan oleh tantangan yang harus dihadapinya
seperti pada tahun 1966, karena pada saat itu media cetak ini terlambat
memenuhi ketentuan yang mengahruskan untuk berafiliasi dengan salah satu
kekuatan politik atau memilih bergabung dengan Koran yang ditentukan oleh
Departemen Keuangan pada saat itu. Sehingga pada saat itu para wartawan Pikiran
Rakyat yang diwakili oleh Sakti Alamsyah dan Atang Ruswita menerbitkan Koran
Angkatan Bersenjata (ABRI), yang terbitan pertamanya pada tanggal 24 Maret 1966
yang bertepatan dengan 20 tahun peristiwa Bandung Lautan Api.
Tidak
cukup sampai disitu, setahun berselang Koran ini kembali mendapatkan ujian
dengan dicabutnya peraturan tentang keharusan berafiliasi oleh Menteri
Penerangan. Pada saat itu Pangdam Siliwangi langsung melepas sepenuhnya
ketergantungan Koran ini terhadap Kodam. Seiring dengan keputusan yang ditetapkan
oleh Menteri Penerangan, pada saat itu juga terhitung pada 24 Maret 1967 Harian
Angkatan Bersenjata (ABRI) berubah nama menjadi Harian Umum Pikiran Rakyat yang
kemudian lebih dikenal dengan sebutan Koran “PR” hingga saat ini.
Berkat
kegigihan dan juga keuletan yang didasari jiwa idealisme para perintis pada
saat itu, Pikiran Rakyat dengan pasti terus mendapatkan perhatian khusus dari
para pembacanya. Pada tanggal 9 April 1973, Pikiran Rakyat berubah secara badan
hukum dari Yayasan menjadi Perseroa Terbatas (PT) dengan nama PT. Pikiran
Rakyat Bandung. Sehingga PR juga terus-menerus menata diri menjadi sebuah media
cetak yang terus maju dan berkembang serta etika jurnalistiknya dipadukan
dengan sistem manajemen layaknya perusahaan yang modern.
Seiring
berjalannya waktu ketika zaman terus menggerus pada era perubahan yang lebih
canggih dan idealisme dipertaruhkan dengan berbagai kepentingan politik
penguasa, Pikiran Rakyat terus kukuh dengan indepedensi sebagai media yang
tidak memiliki “kepentingan” selain terus memberikan sajian informasi yang real
di masyarakat Jawa Barat. Tentunya hal ini juga yang sekarang ini menjadi nilai
keutuhan informasi bagi masyarakat, sehingga menjadikan Pikiran Rakyat menjadi
tolak ukur media dalam menyajikan berita yang jujur.
Dalam
perkembangannya, Pikiran Rakyat terus membangun masyarakat di Jawa Barat yang
berprestasi sehingga hal ini juga yang mimicu Pikiran Rakyat terus senantiasa
hadir di masyarakat Jawa Barat dengan memberikan apresiasi lebih kepada para
siswa SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi di Jawa Barat. Target pembangunan
melalui pendidikan ini juga mampu membantu peran serta pemerintah dalam
mewujudkan masyarakat yang cerdas, jujur, dan berpendidikan tinggi.
Pikiran
Rakyat yang menjadi sumber berita bagi masyarakat Jawa Barat terus berkomitmen
menjadi media yang senantiasa dapat dipercaya dan berimbang, hal ini sejalan
dengan visi Pikiran Rakyat yang menjadi media terpercaya, berpengaruh, dan
terbesar di Jawa Barat dalam membangun karakter, pemberdayaan, dan kemakmuran
masyarakat Indonesia. Visi yang dicanangkan PR ini juga yang mampu mendorong
komitmen PR menjadi media yang independen yang didasari jiwa idealisme sebagai
media “Rakyat” Jawa Barat dalam upaya membangun masyarakat.
Media
yang sekarang menjadi benteng awal pembangunan masyarakat justru dimanfaatkan
oleh beberapa pihak yang secara sengaja menjadikan media sebagai alat untuk
membangun citra, opini, dan juga propaganda di masyarakat sehingga problematika
yang dihadapi saat ini adalah bagaimana membangun tingkat kepercayaan
masyarakat terhadap media saat ini, tidak sedikit untuk saat ini di banyak
media terdapat logo-logo partai para pemilik media tersebut. Sehingga hal ini
juga yang justru membuat berkurangnya ketertarikan masyarakat dalam membaca
berita. Dikarenakan hal itu yang membuat perpecahan di masyarakat luas.
Sebagaimana mestinya, media yang menjadi tongkat awal masyarakat dalam menyerap
informasi dari pusat yang semestinya menjungjung tinggi asas kejujuran sebagi
realita awal dalam kejadian yang sebenarnya, pada saat ini justru terbalik
dimana media menjadi tolak ukur masyarakat dalam membangun informasi. Sehingga
dalam realita banyak masyarakat yang justru tidak ingin tahu menahu terhadap
pemberitaan yang disajikan media-media yang “dicampuri” berbagai kepentingan
para pemiliknya.
Perlahan
tapi pasti Pikiran Rakyat yang sejak awal merawat nilai-nilai etika jurnalistik
yang memang semestinya tidak memiliki kepentingan, menarik kembali minat
masyarakat dalam membaca berita di media yang khususnya media cetak. Hal ini
pula yang membuat Pikiran Rakyat terus bereksitensi di masyarakat dan kembali
mempercayai nilai yang tertanam oleh para pendahulu media ini, sehingga saat
ini Pikiran Rakyat mampu menjadi sedikit diantara banyak media yang dijadikan
sumber informasi bagi masyarakat di negeri ini yang khususnya daerah Jawa
Barat.